| |
Hal-hal yang diperbolehkan dalam shalat
Diantara hal-hal yang diperbolehkan
dalam shalat yaitu :
| 1. |
Membetulkan
bacaan imam. Apabila imam lupa ayat tertentu maka makmum
boleh mengingatkan ayat tersebut kepada imam. Hal ini
berdasarkan hadits Ibnu Umar :
"Bahwa Nabi Shallallaahu alaihi
wasallam shalat, kemudian beliau membaca suatu ayat, lalu
beliau salah dalam membaca ayat tersebut. Setelah selesai
shalat beliau bersabda kepada Ubay, 'Apakah kamu shalat
bersama kami?', ia menjawab, 'Ya', kemudian beliau bersabda,
'Apakah yang menghalangi-mu untuk membetulkan
bacaanku'." (HR. Abu Daud, Al-Hakim dan Ibnu
Hibban, shahih)
|
| 2. |
Bertasbih atau bertepuk
tangan (bagi wanita) apa-bila terjadi sesuatu hal, seperti
ingin menegur imam yang lupa atau membimbing orang yang buta
dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu
alaihi wasallam:
"Barangsiapa terjadi padanya sesuatu
dalam shalat, maka hendaklah bertasbih, sedangkan bertepuk
tangan hanya untuk perempuan saja." (Muttafaq
'alaih)
|
| 3. |
Membunuh ular, kalajengking
dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu
alaihi wasallam:
"Bunuhlah kedua binatang yang hitam
itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan
kalajengking." (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi
dan lainnya, shahih)
|
| 4. |
Mendorong orang yang melintas
di hadapannya ketika shalat. Hal ini berdasarkan sabda
Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:
"Apabila salah seorang di antara kamu
shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas
baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di
hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia
memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras).
Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan)
syaitan." (Muttafaq 'alaih)
|
| 5. |
Membalas dengan isyarat
apabila ada yang me-ngajaknya bicara atau ada yang memberi
salam kepadanya. Dasarnya ialah hadits Jabir bin Abdullah :
"Dari Jabir bin Abdullah , ia
berkata, 'Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi
wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian
beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya
pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat
dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau,
kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya
mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan
kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau
bersabda, 'Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi?
Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali
karena aku dalam keadaan shalat'." (HR. Muslim)
Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib
, ia berkata: "Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu
alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku
beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan
isyarat." Berkata Ibnu Umar: "Aku tidak tahu
terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat
jari-jarinya." (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai,
dan selain mereka, hadits shahih)
Dari sini dapat kita ketahui, bahwa
isyarat itu terkadang dengan tangan atau dengan anggukan
kepala atau dengan jari.
|
| 6. |
Menggendong bayi ketika
shalat. Hal ini berdasar-kan hadits Rasulullah Shallallaahu
alaihi wasallam:
"Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata,
'Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami
shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-'Ash, yaitu anak Zainab
putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak
beliau. Apabila beliau ruku', beliau meletak-kannya dan
apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi
Umamah itu ke pundak beliau." (HR. Muslim)
|
| 7. |
Berjalan sedikit karena
keperluan. Dalilnya adalah hadits Aisyah radhiallaahhu anha:
"Dari Aisyah radhialaahu anha, ia
berkata, 'Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang
shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian
aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan
menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau
kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa
pintu itu menghadap kiblat." (HR. Ahmad, Abu Daud,
At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)
|
| 8. |
Melakukan gerakan ringan,
seperti membetulkan shaf dengan mendorong seseorang ke depan
atau menarik-nya ke belakang, menggeser makmum dari kiri ke
kanan, membetulkan pakaian, berdehem ketika perlu, menggaruk
badan dengan tangan, atau meletakkan tangan ke mulut ketika
menguap. Hal ini berdasarkan hadits berikut:
"Dari Ibnu Abbas , ia berkata, 'Aku
pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi
Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam
mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut
shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku
berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku
dan menempatkanku di sebelah kanannya." (Muttafaq
'alaih) |
|
|