Login Form

Log in
 
 
Rabu, 16 Mei 2014
16 Jumadil Akhir 1435 H

Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Baqarah [2]:110)

 

“Tidak henti-hentinya manusia memerangi kabah ini sampai ada suatu pasukan besar menyerangnya. Tatkala mereka sampai di Baida’ (sebuah tempat yang rata) mereka dibenamkan awal dan akhirnya dan tidak selamat pula di tengah-tengahnya.

 

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)- Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (Q.S ar-Rum [30] :21).

 

 

Home Etika Dalam Islam ETIKA MENJENGUK ORANG SAKIT
JADWAL SHALAT
 Shubuh
04:38
 Fajar
05:51
 Dzuhur
11:55
 Ashar
15:14
 Maghrib
17:55
 Isya
19:04
 
 
Berlaku untuk wilayah
DKI JAKARTA dan sekitarnya.

Wilayah Lainnya :
 Bandung  - 3 Mnt
 Purwokerto  - 9.6 Mnt
 Kebumen  - 11 Mnt
 Solo  - 16Mnt
 Malang  - 23 Mnt
 Banyuwangi  - 30 Mnt
 Surabaya  - 24 Mnt
 Yogyakarta  - 14 Mnt

Who's Online

We have 13 guests online

Anda Pengunjung Ke

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini72
mod_vvisit_counterKemarin803
mod_vvisit_counterMinggu Ini1635
mod_vvisit_counterBulan Ini13273
ETIKA MENJENGUK ORANG SAKIT PDF Print E-mail
User Rating: / 4
PoorBest 

MMINFO-Pr - Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur dan membahagiakannya.

Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit yang dirasakannya, seperti mengata-kan: �Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?�. Sebagai-mana pernah dilakukan oleh Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam.

Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Alloh, selamat dan disehatkan. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu telah meriwayat-kan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau menjenguk orang sakit, ia mengucapkan: �Tidak apa-apa. Sehat (bersih) insya Alloh�. (HR. Al-Bukhari). Dan berdo`a tiga kali sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam.

Mengusap si sakit dengan tangan kanannya, dan berdo`a:

�Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit�. (Muttafaq�alaih).

Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan jangan mengatakan �tidak akan cepat sembuh�, dan hendaknya tidak mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.

Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan kedua matanya dan mendo`akan-nya. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: �Talkinlah orang yang akan meninggal di antara kamu �La ilaha illAlloh�. (HR. Muslim).

Untuk orang yang sakit:

Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.

Berbaik sangka kepada Alloh, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Alloh lainnya, dan bahwa sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak mem-butuhkan ketaatannya

Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan olehnya, dan segera mem-bayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemi-liknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.

Memperbanyak zikir kepada Alloh, membaca Al-Qur�an dan beristighfar (minta ampun).

Mengharap pahala dari Alloh dari musibah (penyakit) yang dideritanya, karena dengan demikian ia pasti diberi pahala. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: �Apa saja yang menimpa seorang mu�min baik berupa kesedihan, kesusahan, keletihan dan penyakit, hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh meninggikan karenanya satu derajat baginya dan mengampuni kesalahannya karenanya�. (Muttafaq�alaih).

Berserah diri dan tawakkal kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Alloh, dengan tidak melupakan usaha-usaha syar`i untuk kesembuhan-nya, seperti berobat dari penyakitnya.

(Sumber: Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan)